Selasa, 17 Mei 2011

Neraka

  1. NERAKA ADALAH SUATU TEMPAT
Neraka berasal dari kata "gehena" yang artinya semula ialah `meratap`, tempat penghukuman orang yang bersalah dan berdosa, tempat yang mendatangkan penderitaan dahsyat. Sebagaimana surga adalah suatu tempat, demikian juga dengan neraka. Hanya saja, neraka merupakan tempat siksaan dan penghuninya akan mengalami kesengsaraan besar dan kekal.
Pertama, neraka adalah tempat Iblis, setan, dan para pengikutnya. Yohanes mencatat, "Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya" (Why. 20:10). Petrus menegaskan bahwa malaikat-malaikat yang berdosa dilemparkan ke dalam neraka (1Ptr. 2:4). Nasib Iblis dan para setan agak berbeda dari manusia. Sekali mereka memberontak terhadap Allah, tidak ada kesempatan bertobat, mereka pasti masuk neraka untuk disiksa.
Kedua, neraka adalah tempat bagi orang yang menolak Yesus, tempat bagi orang-orang najis dan jahat. Wahyu 20:15 mencatat, "Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api (neraka) itu." Ayat ini sesuai konteks ayat sebelumnya yang menunjukkan bahwa orang-orang yang masuk kitab kehidupan adalah mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan melakukan kehendak-Nya, tidak munafik dalam menjalankannya. Selanjutnya, Wahyu 21:8 mengatakan, "Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya (kepada Yesus), orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."
  1. SUASANA NERAKA
Neraka jelas merupakan tempat kengerian yang tiada taranya. Ratap tangis, kertakan gigi, jeritan yang menyayat hati, kepanasan dan kesakitan, kejijikan, ulat yang menggerogoti tubuh, merupakan gambaran yang akan terjadi di neraka. Gambaran yang melukiskan murka Allah dinyatakan kepada orang berdosa, Iblis dan malaikatnya.Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka" (Luk. 12:5). Suasana neraka yang seperti ini seharusnya membuat manusia yang masih hidup dalam dunia fana ini berlaku bijaksana untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Takutlah akan Dia karena Dialah satu- satunya yang berkuasa melemparkan orang dalam neraka. Lukas menegaskan, "Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti.
  1. MANUSIA DI NERAKA
Seperti gambaran di atas, manusia juga dapat saling mengenal, hanya saja tidak mungkin terjadi persekutuan yang indah karena masing- masing sibuk kesakitan. Penyesalan karena selama hidup dalam dunia tidak bertobat, tidak melakukan kehendak-Nya sungguh-sungguh akan menambah sakitnya penyiksaan neraka. Di neraka, tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat dan dipindahkan ke surga. Hukuman ini sifatnya kekal, selama-lamanya. Sungguh tidak dapat dilukiskan penderitaan dan kesakitan yang akan dialami manusia penghuni neraka. Namun yang jelas, dosalah yang menghantarkan manusia sampai ke tempat yang sangat mengerikan ini.
C. Kristus Jalan Penentu Kekekalan
Yesus pernah berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh. 14:6).
Tidak ada peristiwa lain di sepanjang masa yang lebih penting daripada kematian Kristus di kayu salib. Perbuatan-perbuatan penting lainnya dari Allah, seperti di dalam penciptaan, inkarnasi, kebangkitan, kedatangan kedua kali, penciptaan langit dan bumi yang baru, menjadi tidak ada artinya apabila Kristus tidak mati. Kematian Kristus tidak hanya merupakan inti pemberitaan Injil. Tanpa hal ini, doktrin-doktrin lain dari kristologi tidak mempunyai hubungan satu sama lain.
Kematian Kristus secara agung menyatakan kesucian, kebenaran, dan keadilan Allah, dan di sisi lain menyatakan kasih Allah yang mendorong kurban ini. Kematian Kristus mengerjakan karya keselamatan manusia dari hukuman Allah yang kekal terutama, dari neraka. Secara umum bisa dikatakan bahwa ada tiga istilah yang penting berkaitan dengan kematian Kristus, yakni sebagai berikut.
  1. Penebusan (redemption): Galatia 3:13; 1Korintus 6:20; Efesus 1:7 dengan latar belakang Keluaran 21:30. Kata ini berarti pembayaran harga yang dituntut oleh Allah yang suci bagi kelepasan orang percaya dari penindasan, hukuman, dan perbudakan dosa. Konsep penebusan punya indikasi sebagai berikut: ada yang harus ditebus, ada oknum yang kepadanya tebusan tersebut dibayarkan, ada orang yang membayarkan tebusan tersebut, dan ada alat untuk membayar tebusan tersebut. Siapa atau apa yang harus ditebus? Setiap orang yang berdosa berada di bawah perbudakan dosa dan di bawah murka Allah. Perbudakan dosa dan murka Allah inilah yang membuat manusia menderita. Jadi, kita manusia yang berdosalah yang perlu ditebus (Kol. 2:14; Rm. 3:19). Siapa yang menerima tebusan tersebut? Allahlah yang menerima tebusan tersebut (Ef 5:2; bdg. Kej. 8:20,21). Kita ditebus dari kutuk hukum Taurat yang notabene dibuat oleh Allah (Gal. 3:13). Jadi, kita ditebus dari dosa sebab kuasa dosa adalah Hukum Taurat dan dari kekuasaan iblis sebab iblis berkuasa atas maut (kematian)(Bdk. Ibr 4:12).
Ada dua istilah penting yang dapat menjelaskan konsep ini. Konsep pertama ialah "propitiation", yakni menenteramkan melalui mempersembahkan kurban. Murka Allah berbalik dari seseorang. Konsep berikutnya ialah "expiation", yakni perbuatan yang membebaskan dari konsekuensi dosa. Siapakah yang membayarkan tebusan tersebut? Hanya Kristus. Dalam konteks Perjanjian Lama, seorang yang berdosa harus membawa kurban penebus dosa kepada Imam yang berhak menghadap Allah di tabut perjanjian. Jika itu berkaitan dengan dosa semua orang, harus ada Imam yang betul-betul kudus karena Allah adalah kudus (hanya yang kudus dan tak bercacat yang boleh menghadap Allah). Tidak ada satu manusia pun yang tidak di bawa kepada kutuk hukum Taurat, karena itu Kristus harus menjadi manusia dan menjadi satu- satunya Imam yang layak mempersembahkan kurban di hadapan Allah. Apa alat pembayaran tebusan tersebut? Tubuh dan darah Kristus sendiri (Ef. 1:7; 1Tim. 2:6; latar belakang Perjanjian Lama mengharuskan kurban sebagai penebus salah/dosa). Inilah yang menjadi dasar pengharapan; kita dapat bebas dari murka dan hukuman Allah. Kita bebas dari perbudakan dosa.
  1. Pendamaian (reconciliation): 2 Korintus 5:18-21; Roma 5:8-21; Kolose 1:20-22; Efesus 2:14-16. Kata pendamaian menunjukkan bahwa sebenarnya ada oknum-oknum yang bermusuhan dan biasanya juga ada juru damai di antara oknum yang bermusuhan tersebut. Allah yang suci tidak mungkin didekati oleh orang yang berdosa. Sebab dosa adalah tindakan melawan kehendak dan ketetapan Allah (Hukum-Hukum Allah Yang Suci) secara sengaja. Jadi, orang yang berdosa adalah seteru atau musuh Allah.
Allah dan manusia perlu didamaikan. Mengapa perlu didamaikan? Sebab manusia adalah bagian dari Allah, atau lebih jelasnya manusia diciptakan oleh Allah, milik Allah. Karena itu, Ia harus membawa kembali ciptaannya itu ke dalam tangan-Nya. Alasan berikutnya, manusia sesungguhnya tidak dapat hidup tanpa Allah. Manusia perlu bersekutu dengan Allah karena manusia memiliki unsur roh yang dihembuskan dari Allah Pencipta (Kej. 2:7; Pkh. 12:7). Artinya, manusia sesungguhnya dapat dikatakan sebagai manusia yang sejati apabila ia bersekutu dengan Allah, Penciptanya. Dalam perspektif inilah dasar pengharapan kristiani diletakkan, yakni kita boleh menghampiri dan bersekutu dengan Allah kembali karena pendamaian yang dilakukan oleh Kristus. Pendamaian ini menghapuskan segala aib dan dosa manusia karena semua itu telah ditanggung oleh juru damai yaitu, Yesus Kristus. Tuhan Kristus, Tuhan Kehidupan membuat kita berdamai dengan Allah oleh Injil.
  1. Pemulihan. Manusia adalah gambar dan rupa Allah. Manusia yang berdosa adalah gambar Allah yang rusak. Persekutuan dengan Allah memungkinkan pemulihan kembali gambar Allah yang rusak itu. Hidup kita disempurnakan dari hari ke hari, dan pada waktu Yesus datang kedua kali, kita dinyatakan sempurna. Inilah dasar pengharapan kita, yakni dengan kematian Kristus kita diubahkan semakin lama semakin sempurna, semakin lama semakin baik di hadapan Allah. Proses ini mengandung unsur providensia/pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya (Yoh. 17:11; 1Tes. 5:23; 1Ptr 1:5).
Sebuah lagu yang alkitabiah ditulis, "Sedikit demi sedikit, tiap hari tiap sifat Yesus mengubahku. Sejak kutrima Dia masuk dalam hatiku Yesus mengubahku. Dia ubahku, oh Juru Selamat. Ku bukan seperti yang dulu-dulu lagi. Meskipun nampak lambat namun kutahu, kusemakin sempurna nanti." Lagu ini mengungkapkan kebenaran bahwa seseorang yang hidup bergaul dengan Allah di dalam Yesus Kristus, ia akan dipulihkan dari hari ke sehari menuju keserupaan dengan Yesus (1Yoh. 2:6).
Yesus Kristus adalah penentu nasib kita dalam kekekalan. Apakah seseorang akan masuk dalam kekekalan di bawah hukuman Allah, yakni di neraka, ataukah seseorang akan masuk dalam kekekalan kemuliaan Allah di Surga? Petrus pernah berkhotbah, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis. 4:12). Karena itu, secara sederhana dapat dikatakan bahwa manusia akan masuk surga karena percaya pada Yesus Kristus, atau seseorang akan masuk dalam hukuman Allah di dalam neraka karena tidak percaya kepada Yesus Kristus Sang Penentu Kekekalan itu. Surga atau neraka ... di mana tempat kita kelak? :'O

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar